dari Mobile01
Dengan piksel efektif 61 MP, Sony Alpha 7R IV adalah kamera full-frame dengan resolusi tertinggi yang ada di pasaran. Minggu lalu, saya memposting artikel berjudul "Menikmati Pengalaman Kamera Resolusi Tinggi Full-frame Sony Alpha 7R IV!”, yang memperkenalkan berbagai fungsi dan fitur utama Alpha 7R IV. Artikel ini akan membahas kapabilitas resolusi tinggi dan Pixel Shift yang ditawarkan Alpha 7R IV, pengalaman kontrol jarak jauh PC dalam pemotretan di studio, serta performa aktual kamera ini dalam membuat foto potret, still life, lanskap, alam liar, dan dalam ruang.
Bagi sebagian pengguna kamera, fungsi Pixel Shift Multi Shooting mungkin tampak mirip dengan fungsi pada kamera Olympus atau Pentax dengan lensa yang dapat ditukar. Namun, fitur ini sudah ada pada Sony Alpha 7R III yang diluncurkan pada 2017. Dengan teknologi stabilisasi gambar 5 sumbu, fitur ini menggeser sensor dengan kenaikan setengah atau satu piksel dalam urutan yang terprogram.
Dalam sebagian besar gambar digital, setiap piksel mewakili hanya satu warna: merah, hijau, atau biru, sedangkan piksel-piksel lainnya mewakili dua warna primer lainnya sebagai pelengkap.
Dalam Pixel Shift Multi Shooting, kamera memotret empat gambar sambil menggeser sensor gambar satu piksel setiap kalinya untuk menghasilkan empat gambar dengan piksel yang digeser, sehingga resolusi 61 MP dapat mereproduksi RGB secara bersamaan, tanpa harus mengisi warna-warna primer yang hilang dengan memberikan pelengkap. Menurut Sony, teknologi ini memungkinkan gambar direproduksi dengan detail, warna, dan tekstur senyata mungkin serta persis seperti aslinya.
Setelah Pixel Shift Multi Shooting membidik 16 kali, kamera akan mendapatkan sekitar 963,2 MP data asli, kemudian menggabungkannya menjadi satu gambar berpresisi tinggi dengan resolusi sekitar 240,8 MP dengan menggunakan aplikasi Imaging Edge. Baik gambar diambil dengan 4 maupun 16 bidikan, rana elektronik akan digunakan dan gambar akan disimpan dalam format RAW saja. Sinkronisasi flash kecepatan tinggi bekerja pada 1/8 dari kecepatan tertingginya, dan interval bidikan dapat diatur antara minimum 1 detik sampai 30 detik, sehingga ada waktu pengaturan siklus yang mencukupi untuk flash. Pertama-tama, biar saya tunjukkan beberapa contoh cara menghasilkan gambar 16 piksel geser dengan Pixel Shift Multi Shooting dan menggabungkannya menjadi satu gambar 240,8 MP.
Untuk mengambil foto di atas, saya pergi ke toko kelontong di Jalan Dihua dan mengambil beberapa buah kering dan obat herba Tiongkok. Kemudian, saya pergi ke toko lain dan memilih beberapa peralatan makan. Setelah kembali ke kantor perusahaan, saya mulai mempersiapkan sesi pemotretan. Saya belum pernah menerapkan pengaturan semacam ini, sehingga saya butuh waktu lama untuk memilih warna latar yang sesuai. Setelah memilih komposisi, saya pun mengatur pencahayaan dan mencobanya terlebih dahulu.
Saya ingin mengingatkan bahwa jika Anda punya kebutuhan pemotretan seperti ini, Anda perlu menyiapkan tripod yang kokoh atau tiang light boom karena sedikit guncangan atau getaran saja dapat memengaruhi kualitas gambar asli yang diambil pada resolusi 61 MP, apalagi gambar komposit 240 MP yang diambil dengan Pixel Shift Multi Shooting. Selain itu, saya juga menyarankan Anda menggunakan remote control pelepas rana, baik berkabel maupun nirkabel, atau aplikasi shutter control untuk memicu kamera, sehingga Anda dapat mengurangi guncangan sekecil apa pun yang mungkin terjadi. Butuh waktu sekitar 2 jam untuk persiapan hingga pemotretan selesai dan perlengkapan dibereskan kembali. Video time-lapse di atas diambil dengan interval 5 detik dan dimainkan pada laju 120 frame per detik.
Jika Anda sudah mengeklik untuk melihat gambar 240 MP asli, silakan lihat keempat gambar 61 MP ini, yang dipangkas dari gambar 240 MP asli. Walau saya sudah sebisa mungkin berusaha meminimalkan faktor pengaruh manusia, masih saja ada bagian yang blur di bagian tepi pada tampilan 100%. Ini mungkin karena aperturnya kurang kecil untuk mengurangi kedalaman bidang, atau mungkin saja terjadi kesalahan pada saat menyusun komposisi gambar dengan Imaging Edge. Menghasilkan gambar yang jelas dan tanpa cacat pada tampilan 100% benar-benar tantangan besar!
Untuk memastikan kepraktisan Pixel Shift Multi Shooting dalam menghasilkan gambar 240 MP, coba saya berikan contoh lain lagi. Saat memotret, saya sebisa mungkin berusaha meminimalkan faktor pengaruh manusia. Pepohonan di belakang bangunan bergoyang akibat tiupan angin, sehingga dedaunan dan cabang-cabang pohon dalam keenam belas gambar ini tidak bisa tetap dalam posisi yang sama, dan ini mungkin menimbulkan efek afterimage saat gambar-gambar ini digabungkan. Silakan lihat gambar-gambar berikut ini (720 × 720) yang dipangkas dari gambar asli 240 MP. Saya rasa kualitas gambarnya cukup bagus untuk keperluan arsip digital. Sebagai contoh, lukisan berharga, kaligrafi, keramik, buku, atau barang-barang dari tembaga atau giok bisa dipotret dengan menggunakan fungsi Pixel Shift Multi Shooting untuk menghasilkan gambar 240 MP. Dengan harga kurang dari NT$100.000, Sony Alpha 7R IV menawarkan yang terbaik di kelasnya!
Seperti sudah saya sebutkan sebelumnya, gambar 61 MP yang dibuat dengan Pixel Shift Multi Shooting adalah hasil penggabungan dari 4 gambar dengan aplikasi Imaging Edge, sehingga setiap piksel memiliki warna primer RGB lengkap. Dengan demikian, gambar akan direproduksi dalam warna dan tekstur mendekati nyata dengan detail lebih kaya. Untuk gambar 61 MP ini, dilakukan pemotretan pixel-shift sebanyak 4 bidikan, pengaruh eksternal atau manusia diminimalkan, dan jumlah pikselnya tetap sama. Karenanya, walaupun gambar aslinya dilihat, tidak akan mudah mencari efek afterimage saat gambar-gambarnya kemudian digabungkan.
Untungnya cuaca hari itu bagus, sehingga saya bisa berkunjung ke Teapot Mountain karena tempat itu sangat indah. Yang lebih baik lagi, Laut Yin Yang di latar belakangnya membuatnya makin menarik. Di sana, saya memotret gambar 61 MP dan 240 MP dengan Pixel Shift Multi Shooting. Karena pengaruh angin, gambar 240 MP yang dihasilkan kurang bisa dijadikan referensi. Silakan lihat gambar bidikan tunggal berikut ini dan gambar 61 MP yang dihasilkan dengan Pixel Shift Multi Shooting. Parameter pemotretan: 24 mm, ISO 160, F7.1, 1/500 dtk. Klik untuk melihat gambar asli ukuran besarnya.
Gambar berikut ini berukuran 720 × 720, dipangkas dari kedua gambar di atas. Dalam Kelompok A, Anda dapat melihat detail genteng di atap gazebo, ragam warna permukaan laut, dan lereng bukit. Gambar dengan Pixel Shift Multi Shooting sedikit lebih mendetail dan saturasi warnanya lebih baik. Dalam Kelompok B, saya sengaja memangkas gambar untuk membandingkan detail pada batu breksi. Batuan breksi di area Jinguashi kaya akan mineral, sehingga permukaan batuannya berwarna kuning kecoklatan agak kusam. Sebagai perbandingan, detail permukaan batu dalam gambar bidikan tunggal tidak sebagus gambar yang diambil dengan Pixel Shift Multi Shooting. Warnanya juga sedikit berbeda. Nyatanya, gambar yang diambil dengan Pixel Shift Multi Shooting tampak lebih mendekati tampilan asli yang saya lihat pada kenyataannya.
Dalam artikel sebelumnya, banyak pembaca online bertanya apakah kualitas gambar akan terpengaruh jika apertur Alpha 7R IV diturunkan menjadi F11. Harus saya akui bahwa saya bukan ahli dalam hal ini, dan satu-satunya cara untuk menjawab pertanyaan ini adalah dengan menunjukkan beberapa gambar sampel yang diambil dengan kamera ini! Saya menggunakan lensa SEL2470GM. Kameranya saya pasangkan ke tripod, kemudian saya memotret gambar still life dengan apertur F5.6-F22 secara berurutan, dan memangkas gambarnya (720 × 720) untuk dijadikan referensi bagi Anda.
Gambar sampel ini menunjukkan bahwa Sony Alpha 7R IV 61 MP tidak menampakkan adanya penurunan signifikan dalam hal kualitas gambar mulai dari apertur F11 seperti yang diduga orang-orang. Sebaliknya, resolusi pada apertur F11 hampir setara dengan pada apertur F8, bahkan di bagian tengah maupun tepian gambar. Selain itu, mirip dengan hasil pengujian sebelumnya, penurunan kualitas gambar di bagian tengah dan tepi hanya tampak jelas mulai dari apertur F16. Artinya, hasil gambar jelas tetap bagus pada apertur F11!
Dalam artikel sebelumnya, saya menyajikan keunggulan Alpha 7R IV dalam mode APS-C, tetapi kamera ini sebenarnya memiliki kegunaan yang lebih luas. Salah satu caranya adalah dengan menambah panjang fokus sebanyak 1,5 kali. Gambar-gambar berikut ini dipotret dengan Alpha 7R IV yang dipadukan dengan SEL100400GM. Panjang fokus ekuivalennya bertambah dari 400 mm menjadi 600 mm, tetapi jumlah pikselnya berkurang menjadi 26 MP. Pada kenyataannya, ini mirip dengan hasil pemotretan dalam mode Full-frame yang diikuti dengan pemangkasan gambar dengan bantuan perangkat lunak. Jika Anda sedang di luar dan harus segera mengirimkan gambar hasil pemotretan Anda, tak masalah jika Anda menggunakan mode APS-C (Super 35 mm). Jika Anda membutuhkan pengolahan pascaproduksi, saya sarankan Anda memotret dalam mode Full-frame dan nantinya melakukan pemangkasan dengan perangkat lunak seperti Lightroom, sehingga resolusinya tidak akan terbatas sebesar 26 MP saja.
Secara umum, opsi default APS-C/Super 35mm pada kamera ini diatur sebagai mode AUTO. Jika Alpha 7R IV dipadukan dengan lensa APS-C, faktor pemangkasannya adalah 1,5x. Saya tidak sengaja mendapati bahwa mode Super 35 mm diaktifkan secara otomatis saat perekaman jika Alpha 7R IV dipadukan dengan lensa FE. Saya mendapati bahwa bidang pandangnya sangat sempit saat merekam pada 16 mm dengan lensa SEL1635GM. Ternyata crop factor-nya 1,5 kali dan menjadi bidang pandang yang ekuivalen dengan 24 mm. Video 4K yang direkam dengan Alpha 7R IV dalam mode Super 35 mm memiliki ukuran 2,4 kali lebih besar dari aslinya, tetapi perspektif tanpa pemangkasan menjadi aspek yang lebih praktis bagi pengguna amatir.
▲Mode Full-frame
▲Mode Super 35 mm
▲ Eye AF Tracking di ruangan berpencahayaan baik
▲ Eye AF Tracking di ruangan berpencahayaan remang
Sejak diluncurkannya Alpha 6400, pengguna terkesima akan teknologi Sony. Dengan dirilisnya firmware baru, kamera Sony Alpha 9, Alpha 7R III, dan Alpha 7 III juga dilengkapi dengan Eye AF Tracking. Dengan setengah menekan tombol rana, fungsi ini akan diaktifkan untuk melacak mata manusia. Fungsi ini bahkan bisa melacak bagian sisi wajah atau belakang kepala. Fungsi ini juga memungkinkan Anda untuk memilih salah satu mata—kiri atau kanan.
Sistem pemfokusan pada Alpha 7R IV lebih hebat daripada pendahulunya. Sistem ini memiliki 567 titik AF deteksi fase bidang fokus dan 425 titik AF kontras. Dengan presisi AF pada tingkat intensitas cahaya rendah sampai EV-3, kamera ini menunjukkan performa hebat dalam kondisi pencahayaan minim. Video ini direkam di ruangan berpencahayaan remang dan modelnya disinari cahaya dari belakang, tetapi bingkai pemfokusan masih mampu melacak wajah dan mata sang model.
Performa pengambilan gambar kontinu Alpha 7R IV dalam mode AF/AE seharusnya adalah 10 fps, tetapi ditampilkan dalam mode Tampilan Langsung pada 8 fps untuk menghindari kelambatan. Karena subjek foto disinari cahaya dari belakang, pencahayaan studio yang digunakan sebagai sumber cahaya pelengkap harus ditambah bersama dengan kecepatan rana yang tinggi. Ini dimaksudkan untuk memastikan bahwa kecepatan pengaturan siklusnya cukup tinggi. Karenanya, saya memotret dalam batas wajar saja dengan parameter berikut ini: 44 mm, ISO 1000, F2.8, 1/640 dtk. Hasilnya adalah ketiga puluh gambar berikut.
Untuk mencari tahu tentang performa kamera ini dalam mengambil gambar potret dalam kondisi pencahayaan yang berbeda-beda, saya menguji kamera ini dalam kondisi cahaya berikut: cahaya natural, lampu studio, dan cahaya remang. Tekstur kulit dalam lingkungan yang beragam ini tampak sedikit berbeda. Model difoto dengan gaya Potret dan keseimbangan putih diatur ke AWB. Saya cukup puas dengan hasilnya. Untuk referensi Anda, berikut sejumlah gambar sampelnya, sekaligus gambar yang dipangkas pada tampilan 100%. Harap ingat bahwa semua gambar sampel yang ada di sini adalah gambar JPG asli.
Saat melakukan pemotretan di studio, fotografer profesional sering kali menggunakan kabel untuk menyambungkan kamera ke komputer, sehingga mereka bisa mengirimkan gambar kepada klien mereka dengan cepat atau memastikan detail gambar secara bersamaan. Untuk mengatasi keterbatasan panjang kabel, sebagian produsen mengembangkan pemancar nirkabel, misalnya WFT-E8D Wireless File Transmitter untuk Canon 1D X, tetapi harganya mencapai hingga 150.000 NTD!
Fungsi PC Remote pada Alpha 7R IV mencakup opsi transmisi nirkabel. Caranya sederhana, cukup instal Imaging Edge pada komputer desktop atau notebook, aktifkan fungsi Remote, dan pilih Wi-Fi Direct pada kamera, kemudian pasangkan kamera dengan komputer untuk melakukan transmisi. Namun, saya mengalami beberapa masalah pada mode Wi-Fi Direct.
Pertama, koneksinya mungkin memperlambat pengoperasian dan respons kamera, termasuk pemilihan titik fokus dan Eye AF Tracking. Selain itu, transmisi 5G untuk gambar RAW+JPG atau JPG asli masih terlalu lambat. Ini karena ukuran gambar RAW mencapai 120 MB, sementara ukuran gambar JPG dengan piksel penuh adalah sekitar 35-50 MB. Anda akan mengalami kelambatan saat membidik 3-5 gambar sekaligus atau melakukan pengambilan gambar kontinu karena data dituliskan ke kartu memori dan dikirimkan ke komputer secara bersamaan. Untuk mengamankan penyimpanan data, saya memilih untuk menyimpan data di kamera sekaligus di komputer, dan kelambatan ini jadi makin terasa. Solusinya sangat sederhana. Anda bisa memilih 2 M agar file ditransfer ke komputer atau menetapkan komputer sebagai tujuan penyimpanan.
Untuk memastikan transmisi data yang cepat dan menghindari beban berlebih pada kamera, saya sarankan Anda menggunakan kabel Tipe C. Video di atas ini adalah contoh transmisi gambar RAW+JPG, JPG (61 MP), dan JPG (2 M). Untuk memenuhi kebutuhan profesional, saya sarankan Anda menggunakan Capture One, yang lebih stabil daripada Imaging Edge.
Saya sendiri tidak punya arloji mekanis tembus pandang, sehingga saya pun meminjam arloji HyperChrome Automatic Open Heart dari salah satu distributor RADO. Dengan casing keramik utuh, penutup belakang berbahan titanium, dan mesin jam otomatis 11 1/2 ETA C07.631, arloji ringan ini menawarkan cadangan daya yang tahan hingga 80 jam. Saya memilih arloji ini karena casing belakangnya yang tembus pandang dan desain badannya yang terbuka, yang memungkinkan Alpha 7R IV untuk menunjukkan kapasitasnya dalam menangkap detail. Gambar-gambar berikut ini adalah gambar JPG asli yang diambil dengan kamera Alpha 7R IV, lensa SEL90M28G, dua monolight Profoto D2, dan 4 lembar kertas A4 untuk membantu penyebaran cahaya. Saya tidak menghapus bercak-bercak debu dan goresan yang ada pada arloji ini karena saya ingin menunjukkan gambar aslinya kepada Anda, sekaligus gambar hasil pemangkasan pada tampilan 100%.
Alpha 7R IV menawarkan jumlah piksel 61 MP, dibandingkan dengan generasi terdahulu yang hanya menawarkan 42,4 MP. Ukuran data untuk satu gambar memang bertambah sangat banyak, tetapi kamera ini mampu mereproduksi detail menakjubkan yang mendekati nyata untuk gambar lanskap dan alam liar. Untuk menguji kamera ini, saya kebanyakan menggunakan lensa G Master berikut ini: SEL1635GM, SEL2470GM, dan SEL100400GM serta SEL35F14Z! Saya membawa kamera dan lensa-lensa ini dan berurutan bertandang ke Gunung Yangming dan Teapot Mountain. Kualitas udara dan jarak pandang beberapa hari itu sangat bagus, sehingga saya bisa menghasilkan banyak foto bagus yang ingin saya bagikan dengan Anda.
Sejak menguji Alpha 9 hingga Alpha 7R III, Alpha 7III, dan Alpha 7R IV, Sony telah menggunakan rangkaian nada warna yang hampir selalu sama. Maka, saya pun mulai mengeksplorasi Creative Style mana yang paling cocok dan sifatnya universal. Dulu, saya selalu akan memilih pengaturan gaya Vivid saat memotret lanskap, tetapi kontrasnya terlalu tinggi dan gambar jadi tampak terlalu terang tanpa daya tarik yang membekas. Saya pun memutuskan untuk menggunakan pengaturan standar dan melakukan penyesuaian akhir: kontras +1, saturasi +1, ketajaman +2. Saya rasa ini adalah gaya yang paling fleksibel. Setelan ini cocok untuk hampir semua adegan dan subjek, kecuali untuk membuat foto potret, yang sebaiknya memang diambil dengan gaya Potret.
Alpha 7R IV | FE 100-400 mm GM | 364 mm | 1/30 dtk | F8 | ISO 800
Ini adalah foto Kaniska canace (kupu-kupu dari famili Nymphalidae) yang dipotret di pegunungan dengan kamera Alpha 7R IV dan lensa SEL100400GM. Jarak subjek foto ini sekitar 1 m. Gambar ini adalah gambar 720x720 yang dipangkas dari gambar aslinya. Detail bulu halus yang tampak kaya dalam gambar ini benar-benar membuktikan tingginya resolusi Alpha 7R IV. Di bawah ini adalah gambar aslinya sebelum dipangkas.
Saat memotret ruang interior hari itu, saya ingin fotonya berupa gambar JPG yang dihasilkan oleh kamera. Maka, saya pun menonaktifkan format RAW dan mencoba mengaktifkan fungsi HDR yang dulu hanya bisa digunakan untuk format JPG, tetapi saya tidak menemukan fungsi itu. Saya pun menanyakannya kepada pihak Sony, dan menerima konfirmasi bahwa Alpha 7R IV tidak memiliki fungsi HDR, tetapi masih mempertahankan opsi DRO. Walaupun Alpha 7R IV memiliki 15 stop rentang dinamis, HDR tetaplah lebih efisien dan bagus untuk menghasilkan gambar yang tampak alami, bahkan dalam adegan berkontras tinggi sekalipun. DRO memang bisa meningkatkan detail pada bagian-bagian gelap, tetapi kapasitasnya dalam hal penekanan highlight cenderung lemah. Untuk pemotretan komersial, saya sarankan Anda menggunakan format RAW dan melakukan pengolahan pascaproduksi.
Gambar sampel resmi dari Alpha 7R IV mencakup gambar sebuah moge buatan Amerika. Menurut saya, gambar ini mampu dengan sempurna merekam detail tekstur logam. Dengan bantuan kolega saya, Linus, saya berkunjung ke toko unggulan Triumph Motorcycles di Taipei. Di sana ada ruang pajang yang nyaman, sehingga saya bisa mengambil gambar dengan leluasa selama 2 jam. Saya kerepotan jika harus membawa lampu, sehingga saya mengambil semua gambar dengan cahaya natural dan saya juga memilih Clear untuk Creative Style guna mereproduksi detail tekstur logam. Gambar-gambar berikut ini adalah gambar JPG asli untuk referensi Anda.
Seperti yang sudah saya janjikan dalam postingan sebelumnya, berikut ini saya sajikan hasil perbandingan performa antara kedua seri kamera ini pada berbagai tingkat sensitivitas dalam adegan malam. Saat parameter pencahayaan yang sama digunakan untuk lingkungan yang sama, Alpha 7R IV menghasilkan gambar yang sedikit lebih cerah. Walaupun selisih jumlah piksel antara kedua generasi kamera ini mencapai hampir 20 MP, kualitas gambar Alpha 7R IV pada ISO 3200 tetap sangat tinggi. Gambar lebih bisa jadi bukti daripada sekadar kata. Berikut adalah gambar asli untuk referensi Anda.
Dalam waktu kurang dari satu minggu sejak menulis artikel sebelumnya (Menikmati Sony Alpha 7R IV, Kamera Full-frame dengan Megapiksel Monster), saya harus menyiapkan materi baru untuk pengambilan gambar dan menyusun beragam arsip rumit, sehingga saya tak punya banyak waktu untuk menjajal ECM-B1M Shotgun Microphone. Namun, saya sudah menyajikan keunggulannya dalam artikel sebelumnya. Mikrofon direksional ini mendukung sinyal digital dan memiliki delapan kapsul mikrofon internal. Produk ini memungkinkan pengguna untuk mengatur rentang direksional dan menawarkan fungsi pereduksi bising. Mikrofon ini tak butuh colokan mikrofon eksternal; dayanya dipasok langsung oleh Multi-interface Shoe yang terpasang pada kamera.
Video -video ini direkam di samping aliran air, dengan kamera dipasangi ECM-B1M Shotgun Microphone, dan kemudian dipasangi mikrofon independen untuk versi perbandingan. Suara dalam video yang direkam dengan ECM-B1M memberikan sensasi ruang dan kedalaman yang lebih baik, sehingga penonton akan merasa seakan-akan aliran airnya ada di depan mereka, dengan kicauan burung terdengar samar-samar di latar belakang. Suara dalam video yang direkam dengan mikrofon lepasan cenderung tidak jelas dan datar, dengan keseluruhan bidang suara didominasi oleh suara aliran air. Suara-suara lainnya sama sekali tak terdengar.
ECM-B1M Shotgun Microphone
Mikrofon lepasan
Kamera Sony pertama yang dilengkapi dengan Eye AF Tracking adalah Compact Digital Camera RX100 VII, yang dirilis bulan Juli lalu. Alpha 7R IV juga hadir dengan fitur ini. Dulu, titik fokus hanya bisa ditentukan dengan mengubah posisi bingkai fokus. Jika kamera yang berada di posisi tetap digunakan untuk memotret subjek bergerak, fotografer harus menyentuh layar untuk mengikuti pergerakan subjek foto. Dengan fungsi Eye AF Tracking, Anda tak perlu lagi merasakan kerepotan ini. Setelah Eye AF diaktifkan, kamera akan terus mengikuti wajah dan mata subjek foto. Jika ada banyak orang dalam satu adegan, gunakan Titik Fleksibel untuk mengubah posisi bingkai pemfokusan, dan sistem akan mendeteksi wajah dan mata yang ada dalam bingkai pemfokusan.
Peningkatan lain yang juga bermanfaat adalah kemampuan untuk mengaktifkan AUTO ISO saat merekam, sehingga kamera akan menampilkan nilai ISO yang sedang digunakan. Dulu, AUTO ISO selalu ditampilkan, sedangkan nilainya hanya ditampilkan dalam mode foto. Dengan peningkatan ini, kini pengguna bisa melihat parameter kerja yang sedang digunakan.
Masuklah ke menu Slow/Quick motion, atur tingkat kecepatan per frame menjadi 1 fps dan kecepatan perekaman menjadi 24 fps. Kamera kemudian akan merekam video pada kecepatan 1 frame per detik. Setelah perekaman selesai, video akan dimainkan pada kecepatan 24 frame per detik. Merekam video time-lapse menjadi sedemikian mudah, walaupun resolusi tertinggi yang tersedia adalah 1920x1080. Walaupun Alpha 7R IV juga memiliki fungsi Interval Shoot, pemrosesan dengan perangkat lunak setelah perekaman tetap saja tak semudah ini.
Hampir satu minggu sudah berlalu sejak saya menulis artikel ulasan sebelumnya. Dalam seminggu terakhir, saya menggunakan Sony Alpha 7R IV serta Alpha 7R III. Setiap kali saya beralih dari satu kamera ke kamera yang lain, saya bisa merasakan perbedaan antara kedua generasi kamera ini dalam hal kenyamanan pegangan dan kontrol atas kamera. Jika Anda adalah seorang pria, Alpha 7R IV yang dipadukan dengan lensa standar memungkinkan Anda untuk memegang kamera dengan satu tangan saja dan mengambil gambar, memilih titik fokus, dan menyetel tombol depan/belakang dengan mudah. Saya sendiri terutama menyukai penyempurnaan pada tuas fokusnya yang antiselip dan memiliki area pengoperasian lebih besar dan tekstur lebih baik daripada generasi sebelumnya.
Alpha 7R IV dilengkapi dengan titik deteksi fase, tetapi tidak ada banyak perubahan dalam hal arsitektur intinya. Tidak ada perbedaan signifikan dalam hal kecepatan pemfokusan antara kedua generasi kamera ini. Dengan presisi AF pada tingkat intensitas cahaya rendah hingga EV-3, Alpha 7R IV mampu menjalankan fungsi Eye AF Tracking dengan andal dan menunjukkan pengenalan dan akurasi tinggi di ruang berpencahayaan remang-remang.
Dari pengalaman saya, ada perbedaan besar antara 42,4 MP dan 61 MP. Walaupun menawarkan performa bagus seperti respons cepat, pengambilan gambar kontinu cepat, dan kemampuan pemfokusan yang luar biasa, Alpha 7R IV masih mampu menghasilkan resolusi efektif sebesar sekitar 61 MP. Padahal, resolusi yang dihasilkan banyak kamera format medium adalah 50 MP atau bahkan lebih rendah. Sony Alpha 7R IV memang dimaksudkan untuk merebut pasar kamera format medium. Dengan harga yang menarik, Alpha 7R IV jelas mampu mencapai sukses jika saja fotografer profesional menyadari keunggulan-keunggulan yang ditawarkannya.
Saat mengeklik untuk melihat gambar 61 MP asli pada tampilan 100%, saya terkesima dan terkesan akan detail yang begitu kaya yang berhasil direproduksi oleh kamera ini. Gambar memang lebih bisa jadi bukti dibandingkan kata-kata belaka! Pada akhir artikel ini, saya ingin berbagi 72 gambar sampel dengan Anda—lebih banyak dari sebelumnya. Saya butuh waktu lebih dari 20 jam untuk memilah gambar-gambar ini. Harap bersabar sementara gambarnya sedang dimuat. Terima kasih atas dukungan Anda.
Fitur yang saya suka:
Harapan untuk peningkatan:
Artikel asli dipublikasikan di https://www.mobile01.com/
Like us on Facebook
Subscribe on YouTube
Follow us on Instagram